MATERI PAI KELAS XI SEMESTER 1 K13
Hidup
Nyaman dengan Perilaku Jujur
A. Pengertian Perilaku Jujur
Jujur memiliki arti kesesuaian
antara apa yang diucapkan atau diperbuat dengan kenyataan yang ada, tidak ditambahi ataupun dikurangi. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, dikatakan
benar/jujur, tetapi kalau tidak, dikatakan dusta. Allah Swt. memerintahkan
kepada kita untuk berlaku benar baik dalam perbuatan maupun

ucapan, sebagaimana firman-Nya:
Artinya: “Wahai orang-orang yang
beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang
benar.” (Q.S. at-Taubah/9: 119)
Dalam bahasa Arab, kata jujur sama maknanya dengan
“ash-shidqu” atau “shiddiq” yang berarti nyata, benar, atau berkata benar.
Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab ”al-kadzibu”. Secara
istilah, jujur atau ash-shidqu bermakna:
(1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan;
(2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan;
(3) ketegasan dan kemantapan hati; dan
(4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri dengan kedustaan.
Kejujuran itu ada pada ucapan, juga
ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu
sesuai dengan yang ada pada batinnya. Ketika berani mengatakan “tidak” untuk korupsi,
berusaha menjauhi perilaku korupsi. Jangan sampai mengatakan tidak,
kenyataannya ia melakukan korupsi. Demikian juga seorang munafik tidaklah
dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai
seorang yang bertauhid, padahal hatinya tidak. Yang jelas, kejujuran merupakan
sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang
yang munafik. Ciri-ciri orang munafik adalah dusta, ingkar janji, dan 
khianat, sebagaimana sabda Rasulullah saw. berikut ini:

khianat, sebagaimana sabda Rasulullah saw. berikut ini:

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi Muhammad saw. bersabda “Tanda orang munafik itu ada 3, yaitu: Apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila dipercaya khianat.” (HR. Bukhari muslim)
Artinya: “Allah berfirman, “Inilah
saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Allah riḍa kepada mereka dan mereka pun riḍa kepada-Nya.
Itulah kemenangan yang agung.” (Q.S. al-Māidah/5: 119)
B. Keutamaan Perilaku Jujur
Nabi menganjurkan umatnya untuk
selalu jujur. Karena kejujuran merupakan akhlak mulia yang akan mengarahkan
pemiliknya kepada kebajikan, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw.

Artinya: “Dari Abdullah ibn Mas’ud,
dari Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan
dan kebaikan itu membawa ke surga....” (HR. Bukhari)
Sifat jujur merupakan tanda
keislaman seseorang dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut.
Pemilik kejujuran memiliki kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan
kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan
selamat dari segala keburukan. Dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari
bahwa orang yang jujur akan dipermudah rezeki dan segala urusannya. Contoh yang
perlu diteladani, karena kejujurannya, Nabi Muhammad saw. dipercaya oleh Siti
Khadijah untuk
membawa barang dagangan lebih banyak
lagi. Ini artinya Nabi Muhammad saw. akan mendapatkan keuntungan yang lebih
besar lagi, dan tentu saja apa yang dilakukan Nabi akan mendapat kemudahan.
Banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari tentang hikmah perilaku jujur. Kamu
dapat mencari contohnya.Sebaliknya, orang yang tidak jujur atau bohong akan
dipersulit rezeki dan segala urusannya. Orang yang pernah berbohong akan terus
berbohong karena untuk menutupi kebohongan yang diperbuat, dia harus berbuat
kebohongan lagi. Bersyukurlah bagi orang yang pernah berbohong sekali kemudian
sadar dan mengakui kebohongannya itu sehingga terputus mata rantai kebohongan.
Kejujuran berbuah kepercayaan, sebaliknya dusta menjadikan orang lain tidak
percaya. Jujur membuat hati kita tenang, sedangkan berbohong membat hati jadi
was-was. Contoh seorang siswa yang tidak jujur kepada orang tua dalam hal uang
saku, pasti nuraninya tidak akan tenang apabila bertemu. Apabila orang tuanya
mengetahui ketidakjujuran anaknya, runtuhlah kepercayaan terhadap anak
tersebut. Kegundahan hati dan
kekhawatiran yang bertumpuk-tumpuk
berisiko menjadi penyakit.
C. Macam-Macam Kejujuran
Menurut tempatnya, jujur itu ada
beberapa macam, yaitu jujur dalam hati atau niat, jujur dalam perkataan atau
ucapan, dan jujur dalam perbuatan.
1. Jujur dalam niat dan kehendak,
yaitu motivasi bagi setiap gerak dan langkah seseorang dalam rangka menaati
perintah Allah Swt. dan ingin mencapai riḍa-Nya. Jujur sesungguhnya berbeda
dengan pura-pura jujur. Orang yang pura-pura jujur berarti tidak ikhlas dalam
berbuat.
2. Jujur dalam ucapan, yaitu
memberitakan sesuatu sesuai dengan realitas yang terjadi, kecuali untuk
kemaslahatan yang dibenarkan oleh syari’at seperti dalam kondisi perang,
mendamaikan dua orang yang bersengketa, dan semisalnya. Setiap
hamba berkewajiban menjaga lisannya,yakni berbicara jujur dan dianjurkan
menghindari kata-kata sindiran karena hal itu sepadan dengan kebohongan,
kecuali jika sangat dibutuhkan dan demi kemaslahatan pada saat-saat tertentu,
tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan
merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam
kejujuran.
3. Jujur dalam perbuatan, yaitu
seimbang antara lahiriah dan batiniah hingga tidaklah berbeda antara amal lahir
dan amal batin. Jujur dalam perbuatan ini juga berarti melaksanakan suatu
pekerjaan sesuai dengan yang diriḍai Allah Swt. dan melaksanakannya secara
terus-menerus dan ikhlas. Merealisasikan kejujuran, baik jujur dalam hati,
jujur dalam perkataan, maupun jujur dalam perbuatan membutuhkan kesungguhan.
Adakalanya kehendak untuk jujur itu lemah, adakalanya pula menjadi kuat.
D. Petaka Kebohongan
Sebagaimana telah dijelaskan di
atas, betapa berartinya sebuah kejujuran karena kejujuran akan membawa kepada
kebaikan dan kebaikan akan membawa ke surga. Sebaliknya, betapa berbahayanya
sebuah kebohongan. Kebohongan akan menghantarkan pelakunya tidak dipercaya lagi
oleh orang lain.
Ketika seseorang sudah berani menutupi kebenaran, bahkan menyelewengkan kebenaran untuk tujuan jahat, ia telah melakukan kebohongan. Kebohongan yang dilakukannya itu telah membawa kepada apa yang dikhianatinya itu.
![]() |
Ketika seseorang sudah berani menutupi kebenaran, bahkan menyelewengkan kebenaran untuk tujuan jahat, ia telah melakukan kebohongan. Kebohongan yang dilakukannya itu telah membawa kepada apa yang dikhianatinya itu.
Artinya: “...Barangsiapa berkhianat,
niscaya pada hari kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu.
Kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang dilakukannya, dan mereka tidak
dizalimi.’’ (Q.S. Āli ‘Imrān/3: 161)
E. Hikmah Perilaku Jujur
Beberapa hikmah yang dapat dipetik
dari perilaku jujur, antara lain sebagai berikut.
1. Perasaan
enak dan hati tenang, jujur akan membuat pelakunya menjadi tenang karena ia
tidak takut akan diketahui kebohongannya. Baginda Rasul SAW bersabda,
‘’Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju perkara yang tidak meragukanmu,
sesungguhnya jujur adalah ketenangan sedangkan dusta adalah keraguan.’’ (HR
Turmudzi dari riwayat Hasan bin Ali).
2. Mendapat
pahala seperti pahala orang syahid di jalan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,
‘’Barang siapa meminta mati syahid dengan jujur, maka Allah akan
mengantarkannya ke dalam golongan orang-orang syahid, walaupun ia mati di atas
kasurnya.’’ (HR Muslim) .
3. Selamat
dari bahaya. Orang yang jujur walaupun pertama-tama ia merasa berat akan tetapi
pada akhirnya ia akan selamat dari berbagai bahaya. Rasulullah SAW telah
bersabda, ‘’Berperangailah selalu dengan kejujuran! Jika engkau melihatnya
jujur itu mencelakakan maka pada hakikatnya ia merupakan keselamatan.’’ (HR
Ibnu Abi Ad-Dunya dari riwayat Manshur bin Mu’tamir).
4. Dijamin
masuk surga, sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW, ‘’Berikanlah kepadaku
enam perkara niscaya aku akan jamin engkau masuk surga: jujurlah jika engkau
bicara, tepatilah jika engkau berjanji, tunaikanlah jika engkau diberi amanat,
jagalah kemaluanmu, tundukkan pandanganmu, dan jagalah tanganmu.’’ (HR Ahmad
dari riwayat ‘Ubadah bin Ash-Shamit).
5. Dicintai
oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda, ‘’Jika engkau ingin dicintai
oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tunaikanlah jika engkau diberi amanah, jujurlah
jika engkau bicara, dan berbuat baiklah terhadap orang sekelilingmu.’’ (HR
Ath-Thabrani). Demikianlah, jujur penting sekali, terutama di masa ketika
segala aspek kehidupan dipenuhi kepalsuan dan dusta. Di manapun berada,
kejujuran harus di atas segalanya. Jujur adalah simbol profesionalisme kerja
dan inti dari kebaikan hati nurani seseorang.
6. Dampak
sikap jujur dalam keluarga tentunya membuat anggota keluarga tersebut menjadi
nyaman, karena antar keluarga dapat berinteraksi tanpa beban dan saling
membantu apabila ada maslah dalam satu pihak keluarga.
7. Dalam
menjalani kehidupan sehari-hari tak merasa di bebani. Maksudnya bila kita jujur
tentunya tidak ada kebohongan yang harus di tutup-tutupi. Dalam hal lisan
secara otomatis dapat berbicara tanpa ada larangan atau pantangan yang harus
dibicarakan dan bisa mengungkapkan kata-kata secara leluasa dan mencritakan
segala yang terjadi. Sedangkan dalam hal perbuatan tidak ada yang harus
disembunyi-sembunyikan. Secara leluasa dapat bebas melakukan sesuatu tanpa
takut ketahuan oleh siapapun.
8. Timbul
rasa percaya diri pada diri sendiri. Merasa optimis mampu melakukan sesuatunya
tanpa ada rasa ragu dalam benak dengan dasar-dasar yang kuat walaupun hasil
yang tidak memuaskan. Segala apapun, apabila dilakukan dengan rasa percaya diri
akan terasa senang karena dapat sebagai ukuran kemampuaannya. Tentunya dimasa
yang akan datang akan sangat mempengaruhi dalam kehidupan di dalam banyak hal,
mulai dari pekerjaan, hubungan keluarga, hubungan masyarakat, hubungan
pertemanan dan banyak lagi.
9. Bersikap
jujur dalam kehidupan masyarakat tentunya akan banyak membawa dampak positif.
Misal saja jika kita jujur dalam hal pemilu pasti akan tidak ada lagi yang suap
menyuap. Fakta dalam masyarakat kalau ada pemilihan pemimpin baru, entah itu
Presiden atau Gubernur atau Bupati hingga sampai pemilihan ketua RTpun banyak yang
melakukan suap agar memenangkan dalam pemilihan. Bahkan yang menerima itu
termasuk sama dengan yang menyuap. Karena dengan menerima suap tadi, maka
dengan terpaksa harus memilih yang sudah diperintahkan orang yang meyuap, dan
bukan dari hati nurani sendiri.
10. Bagi
seorang pelajar tentunya mempunyai angan-angan untuk mendapatkan sebuah
pekerjaan yang enak tetepi dapat menghasilkan uang banyak. Nah, dengan
mempunyai perilaku yang jujur tentunya akan mempermudah untuk mendapatkan dan
lebih-lebih menciptakan sebuah pekerjaan yang di inginkan. Hal ini dikarenakan
seseorang yang mempunyai sikap jujur maka ia akan mudah mengerti jika diberikan
sebuah persoalan-persolan yang ditugaskannya kepada seseorang tersebut.
Kemungkinan besar akan mempermudah menyelesaikan tugas-tugasnya dan cepat
tanggap dengan segala masalah-masalah yang menghadang.
SUMBER :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar